Oleh : Muhsin Labib

Di mobil mewah –sejak era Catatan Si Boy- tasbih bergelantungan. Cewek berjilbab ikut casting dan kontes lagu dangdut. ‘I’m a Moslem’ (khusus yang diinggriskan) juga menjadi stiker umum. Di café kita mendengar orang berdasi saat meeting dengan mitranya bergumam ‘alhamdulillah’.

Di penjara sering mulut barapidana menyemburkan ‘astaghfirullah’. Di kuburan orang-orang yang melayat mengucapkan ‘inna lillah’. Di bursa saham kita lihat orang menepuk dahi sambil berteriak ‘Ya Allah’ (yang sebagian mem-pleset-kannya menjadi ce ileh).  Di majelis taklim, ustadz kadang merasa perlu menyihir hadirin dengan ‘wallahi’ (demi Allah). Dalam konferensi pers, Pak Pejabat memulai ucapannya dengan ‘bismillah’ dan menutupnya dengan ‘assalamu… wa rahamatullahi wa barakatuh’. Di pentas dangdut, penyanyi melantunkan lagu yang diisi dengan ‘Ya Allah’. Artis yang memperlihatkan sebagian dada silikonnya juga tidak segan-segan menyebut ‘insya Allah’. Yang paling gres, anak-anak band berteriak “Oh, Tuhan, Tolonglah aku…” (untuk mendapatkan cewek, maksudnya). Kata “mulia” itu diteriakkan sambil berjingkrak-jingkrak.

Alhasil, hampir semua mulut yang bertengger di wajah setiap muslim berlomba adu kefasihan mengucapkan kata mahaindah ini. Di bulan Ramadhan, para pegadang suara dan rupa itu makin terlihat solehah. Sudah bening, berkerudung lagi ditambah dengan ucapan “Alhamdulillah”. Benar-benar “kesalehan industrial”

Sebuah kata bisa mengandung salah satu dari beragam pengertian; Pertama, kata yang dipergunakan sebagai nama umum atau atribut universal saja. Kedua, kata yang digunakan sebagai nama universal dan personal sekaligus. Ketiga kata yang digunakan sebagai nama personal (alam syakhshi) semata.

Dalam bahasa Arab, kata “Allah” sebagai lafdh al-jalalah (nama kebebasaran) dipergunakan dan ditetapkan sebagai nama personal (alam syakhshi). Sedangkan ar-rahman ditetapkan sebagai predikat khusus. Selain dari kata Allah (yang merupakan nama khusus) dan kata al-rahman (yang merupakan sifat khusus), tidak bersifat khusus. (Lihat M. Fuad Abdul-Baqi, Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfadh Al-Qur’an, hal. 62-63).

Itulah sebabnya mengapa kata “rabb”, ilah”, “khaliq” digunakan untuk selain Allah, bahkan “ra’uf” dan “rahim” digunakan untuk Nabi, sebagaimana tertera dalam surah at-Taubah ayat 128 Keenam, kata sebagai nama khusus yang sejak semula ditetapkan untuk menunjuk sebuah maujud tertentu dan sebelumnya tidak pernah ada dalam arti umum.

Karena Tuhan tak terindrakan, maka untuk mengenali dan berhubungan dengan Sang Zat itu, digunakanlah sebuah simbol unik yang berkonotasi secara eksklusif, yaitu Allah. Atas dasar itu, kata baku “Allah”, yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 930 kali, juga kata olahan (musytaq)-nya, ditetapkan sebagai sebuah “nama personal”, dan ia tidak mempunyai arti selain zat Adikodrati Swt.

Selain yang dikaitan dengan Allah, masih banyak lagi kosa kata dan simbol verbal relijius yang perlahan-lahan mulai ‘dianiaya’ dan dikikis substansi spiritualnya akibat penggunaan yang serampangan, pemahaman yang dangkal dan penge-pop¬-an (peng-genitan) yang sudah kebablasan. Kita bisa menemukan, misalnya, ‘halal bi halal’ digunakan hanya untuk membuat deal-deal politik yang merugikan kepentingan bangsa, ’silaturahmi’ menjadi ajang reuni para politisi, bahkan ‘dakwah’ dijadikan kedok kampanye.

Memang, menggunakan kata-kata relijius, apalagi dengan tujuan mengambil berkah dan menganggungkan syiar Allah, dapat dianggap sebagai kesalehan, namun mengeksploitasinya demi pembodohan rakyat, manipulasi opini dan kebohongan publik apalagi demi menjustifikasi perbuatan atau keputusan yang korup adalah pelecehan terhadap simbol agama.

Mensyukuri kekayaan tidak cukup dengan alhamdulillah versi verbal, namun juga dengan alhamdulillah versi aktual. Pelaku korupsi dan kejahatan lainnya mungkin bisa dicari celah hukumnya untuk dibebaskan, tapi hukum Tuhan tidak akan bisa dianulir hanya dengan ucapan ‘astaghfirullah’.

 

Source : http://kampoengsufi.wordpress.com

Advertisements

Miskin

Posted: February 24, 2011 in renungan
Tags: ,

Seorang pemuda baru saja mewarisi kekayaan orang tuanya. Ia langsung terkenal sebagai orang kaya, dan banyak orang yang menjadi kawannya. Namun karena ia tidak cakap mengelola, tidak lama seluruh uangnya habis. Satu per satu kawan-kawannya pun menjauhinya.

Ketika ia benar-benar miskin dan sebatang kara, ia mendatangi Nashruddin. Bahkan pada masa itu pun, kaum wali sudah sering (hanya) dijadikan perantara untuk memohon berkah.

“Uang saya sudah habis, dan kawan-kawan saya meninggalkan saya. Apa yang harus saya lakukan?” keluh pemuda itu.

“Jangan khawatir,” jawab Nashruddin, “segalanya akan normal kembali. Tunggu saja beberapa hari ini. Kau akan kembali tenang dan bahagia.”

Pemuda itu gembira bukan main. “Jadi saya akan segera kembali kaya?”

“Bukan begitu maksudku. Kau salah tafsir. Maksudku, dalam waktu yang tidak terlalu lama, kau akan terbiasa menjadi orang miskin dan tidak punya teman.” jawab Nashruddin

 

Sumber : http://kampoengsufi.wordpress.com/2011/01/15/miskin-dan-sepi/#more-1206

Oleh : Andi Ryza Fardiansyah

knowledge

Dalam kehidupan manusia, persoalan seputar pengetahuan adalah persoalan yang sangat penting. Bahkan merupakan persoalan yang paling mendasar. Persoalan inilah yang membedakan antara kehidupan manusia dengan kehidupan binatang. Dalam kehidupan binatang, pengetahuan bukanlah persoalan utama. Kita bahkan tidak pernah mendapati binatang yang duduk berdiskusi sesama binatang dalam membahas tema-tema pengetahuan. Jangankan pengetahuan, dalam sejarah dunia inipun tidak pernah ada catatan prestasi yang muncul dari kehidupan binatang, sebagaimana prestasi-prestasi dalam sejarah kehidupan manusia.

Kalau kita meluangkan waktu untuk sejenak merenungi perbedaan antara manusia dengan binatang, bahwa ternyata prinsip-prinsip umum biologis antara binatang dan manusia pada dasarnya sama. Bahwa, aktivitas biologis yang berlaku pada tubuh binatang juga dilakukan oleh manusia dan kebutuhan biologis manusia secara umum sama dengan kebutuhan biologis binatang[1]. Dalam pandangan sains pun (khususnya dalam bidang biologi) antara manusia dan binatang dimasukkan dalam satu kingdom. Dan ini pun yang dijadikan alasan untuk mengambil hewan-hewan percobaan sebagai sampel sebuah penelitian yang pada dasarnya hasilnya ditujukan untuk kehidupan manusia.

Maka tidak ada perbedaan antara kehidupan manusia dan binatang selain pada persoalan pengetahuannya. Dan bahkan persooalan pengetahuan merupakan pembeda satu-satunya yang membedakan antara kehidupan manusia dan binatang. Artinya, tidak ada kemanusiaan tanpa adanya pengetahuan.

Manusia-manusia yang merasa sebagai manusia tapi tidak ingin menjadikan pengetahuan sebagai persoalan yang mendasar pada kehidupannya tidak lebih dari seonggok daging, beberapa liter darah dan beberapa kilogram tulang-belulang saja. Mereka seperti kapal yang terombang-ambing ditengah samudera tanpa kompas, peta dan nahkoda. Mereka seperti mahluk yang berada dalam sebuah labirin abadi dan merekalah pemeran dari cerita yang awal dan akhirnya tidak mereka ketahui.

Itulah alasan mengapa kita sangat mudah mengenali orang-orang yang tidak mempersoalkan pengetahuan. Orang-orang seperti ini banyak tersebar disekitar kita dan mereka adalah orang-orang yang sangat pantas untuk dikasihani. Orang-orang yang tidak berpengetahuan juga pastinya tidak akan mengetahui apa akibat dari sebuah tindakan. Karena setiap tindakan manusia mestilah didasari atas dasar pengetahuan. Minimal tentang alasan dan konsekuensi yang lahir. Kalau tidak, tentulah tidak aka nada pula pertanggung jawaban dari sebuah tindakan. Dan tindakan tanpa pertanggung jawaban hanyalah tindakan yang dilakukan oleh binatang.

Kita tidak pernah menemukan ada sapi yang makan rumput yang sebelumnya meminta izin pada pemilik rumput. Kita tidak pernah menemukan ada kambing yang makan tanaman didepan rumah kita setelah meminta izin pada kita sang pemilik rumah. Dan kita tidak pernah menemukan ada hewan yang dituduh mencuri, memperkosa atau melakukan sebuah tindakan kriminal. Karena tidak ada pertanggungjawaban pada binatang. Maka orang-orang yang tidak mempersoalkan pengetahuan sama dengan tidak pernah pusing tentang pembedanya dengan binatang.

 

Dalam pandangan kaum empirisme[2] manusia dimasukkan dalam kingdom binatang. Ini memang dibenarkan sebab dari segi jasad antara binatang dan manusia sama-sama tunduk pada satu hukum-hukum biologis yang sama. Manusia secara jasadi butuh makan, binatang pun butuh makan. Manusia secara jasadi bernafas, instirahat, mengeluarkan zat sisa dan binatang pun seperti itu. Dan apapun kebutuhan fisik yang diperlukan oleh manusia juga dilakukan oleh binatang.

Namun, kehidupan binatang adalah kehidupan yang tidak pernah mengalami perkembangan. Berbeda dengan kehidupan manusia yang semakin berkembang dan beradab. Dalam kehidupannya, manusia mengenal apa yang disebut cinta, tanggung jawab, etika, moralitas, keadilan dan kebenaran. Yang dalam pandangan manusia, ketika hal ini tidak ada maka kehidupan akan tidak berarti apa-apa. Berbeda dengan kehidupan binatang yang walaupun mereka tidak mengenal hal-hal tersebut mereka masih tetap hidup seperti biasanya. Ini karena apa? Tentu saja ada perbedaan pengetahuan antara manusia dan binatang. Pengetahuan yang membuat manusia memaknai hidup dengan cara yang berbeda dari binatang.

Dari sini, kita dapat menyipulkan bahwa makna dari kehidupan pada dasarnya sangat bergantung dari bagaimana pengetahuan kita tentang hidup. Ada orang-orang yang kemudian hidup hanya untuk mengisi perutnya dan ada juga orang-orang yang hidup untuk membantu orang lain. Orang-orang yang hidup hanya untuk mengisi perutnya mungkin memiliki pengetahuan bahwa hidup ini bukanlah sesuatu yang harus dipersembahkan. Mereka tidak memahami adanya tujuan dari hidup selain untuk diri mereka sendiri. Sedangkan mereka yang hidup untuk membahagiakan orang lain mungkin saja melihat hidup dengan cara yang berbeda. Mereka mungkin memahami bahwa hidup punya tujuan dan hidup adalah salah satu dari serangkaian tahapan dalam penciptaan. Namun, apapun bentuk kehidupan itu pastilah sangat bergantung dari bagaimana pengetahuan subjek tentang kehidupan.

Artinya, kehidupan sebagai sebuah hal yang paling mendasar dari mahluk hidup adalah hal yang sangat bergantung dari bagaimana pengetahuan pelaku kehidupan. Pengetahuanlah yang kemudian menunjukkan jalan serta tujuan kemana kehidupan itu akan diarahkan. Pengetahuanlah yang kemudian menjadi dasar setiap orang ingin membuat design tersendiri pada akhir kehidupannya. Orang yang menganggap bahwa mati dalam keadaan tidur dirumah sebagai sesuatu yang baik tentu saja mengaharapkan kematian yang seperti itu. Namun berbeda dengan orang yang paham bahwa mati di medan perang dalam memperjuangkan agama adalah sebuah kematian yang mulia tentu saja akan memilih kematian yang seperti ini.

Binatang pun berdasarkan pengetahuannya juga menentukan cara matinya. Binatang mati dengan model kematian yang biasa-biasa saja. Kematian binatang tidak pernah membawa pengaruh pada kehidupan binatang yang lainnya. Kematian binatang tidak pernah membawa manfaat. Jika seekor ayam mati, kematiannya bukanlah sebuah pelajaran berharga bagi ayam yang lainnya. Maka ketika ada manusia yang kematiannya juga biasa-biasa saja dan tidak membawa manfaat kepada manusia yang lainnya maka kematiannya adalah kematian seperti matinya binatang. Dan tentu saja kita bisa menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan semasa hidupnya pula tidak lebih dari apa yang juga dilakukan oleh binatang semasa hidupnya. Dan pandangannya tentang hidup pun sama dengan bagaimana binatang memaknai hidupnya.

Akan tetapi jika kita bertanya kepada manusia secara sadar tentu saja tidak satupun yang ingin dikatakan seperti binatang. Namun sayangnya karena keterbatasan pengetahuan mereka sehingga mereka menjalani kehidupan seperti binatang secara tidak sadar.

 

Cara terbaik untuk mengetahui perbedaan antara pengetahuan manusia dengan binatang adalah dengan memperhatikan orientasi dari setiap tingkah lakunya. Ini dikarenakan pada dasarnya tidak ada tingkah laku yang dilakukan tanpa dasar pengetahuan. Mengapa ketika orang melihat rumahnya terbakar dan semua hartanya hangus dia akan menangis, karena dia tahu bahwa rumahnya yang terbakar dan menghanguskan semua hartanya merupakan sebuah kerugian besar dalam hidupnya. Mereka tahu bahwa hari-hari kedepannya dalam hidupnya akan terasa lebih sulit dijalani dibandingkan jika rumahnya tidak terbakar dan semua hartanya tidak hangus. Maka jawaban dari pertanyaan mengapa ada model tingkah laku yang berbeda dalam menyikapi realitas adalah bahwa ada pengetahuan yang berbeda dalam memandang realitas.

Realitas yang dipandang oleh binatang adalah realitas hanya sebatas hal-hal fisik. Karena alat pengetahuan yang ada pada binatang hanyalah alat inderawi saja. Binatang tidak punya alat pengetahuan selain dari alat indera. Maka pengetahuannya pun terbatas hanya pada apa yang dipersepsi oleh alat inderanya saja. Binatang tidak mampu memahami realitas yang berada dibalik materi. Binatang tidak memiliki kemampuan untuk memahami hakikat, sehingga binatang tidak akan mampu membuat tidakan untuk mempengaruhi realitas.

Sedangkan manusia tidak hanya mampu untuk mengetahui realitas sebatas persepsi inderawi saja. Manusia lebih daripada itu, karena manusia memiliki alat pengetahuan yang lain selain daripada indera. Manusia punya hayal yang menangkap objek-objek hayal dan akal untuk memahami objek-objek akliah[3]. Artinya, manusia dengan alat epistemologinya yang lebih daripada binatang mampu memiliki pengetahuan yang lebih dari pada binatang. Manusia bisa mengetahui hakaket dari setiap realitas, karena itu pula manusia mampu bertingkah laku untuk mempengaruhi realitas.

Karena pengetahuan binatang yang hanya terbatas pada persepsi inderawi saja, maka tingkah laku binatang pun hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan fisiknya saja. Karena binatang tidak memiliki pengetahuan yang lebih dari persepsi inderawi termasuk pada dirinya sendiri. Binatang hanya paham pada kebutuhan fisik pada dirinya. Dalam satu hari kehidupannya, orientasi tingkah lakunya hanya difokuskan pada bagaimana melakukan pemenuhan kebutuhan fisik. Seperti makan, minum, istirahat dan berkembang biak. Sedangkan pada manusia, karena dianugerahi alat pengetahuan yang lebih sehingga pengetahuannyapun lebih daripada binatang, pola hidupnyapun tidak hanya didasari pada pemenuhan kebutuhan fisik saja. Manusia memiliki pengetahuan bahwa ada kebutuhan non-material yang juga harus terpenuhi pada kehidupannya. Karena manusia memiliki alat pengetahuan untuk mempersepsi realitas non-material. Manusia pasti akan menganggap hidupnya hampa tanpa cinta, keadilan, keamanan dan lain-lain.

Binatang pun tidak memahami adanya hak dan kewajiban. Karena hak dan kewajiban adalah sesuatu yang tidak dapat diinderai. Maka untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, binatang tidak pernah mempersoalkan hak binatang lain. Tidak ada hak milik dalam kehidupan binatang. Maka hukum dalam kehidupan binatang pun adalah “siapa yang kuat dialah yang menang”. Tidak ada rasa kasihan, tidak ada persaudaraan. Yang ada hanyalah bagaimana hari ini seekor binatang bisa makan dan melanjutkan hidupnya.

Hak, kewajiban, persaudaraan, toleransi, kebersamaan dan lain-lain adalah hal-hal yang hanya bisa dipahami oleh manusia. Maka dari itu, jika ada manusia yang kemudian menghilangkan hal tersebut dari kehidupan manusia maka manusia ini adalah manusia yang berharap kehidupan manusia sama dengan binatang. Dan ini hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang empirisme. Orang-orang yang menganggap bahwa pengetahuan manusia hanya terbatas pada persepsi inderawi saja. Sama seperti binatang.


[1] Persamaan secara umum yang dimaksudkan disini adalah  persamaan yang bergantung dari kompleksitas unsur jasadi mahluk. Akan tetapi pada dasarnya walaupun itu adalah hewan ber-sel satu (amoeba) pada dasarnya juga memiliki kesamaan dengan manusia yang merupakan mahluk multi-sel. Salah satunya adalah keduanya butuh nutrisi untuk beraktivitas. Perbedaannya hanyalah apa nutrisi yang dibutuhkan dan bagaimana cara mendapatkannya. Dan semakin kompleks hewan tersebut maka semakin banyak kesamaan secara fisiknya dengan manusia.

[2] Pandangan ini adalah pandangan sebagaimana yang terdapat pada pelajaran biologi pada umumnya.

[3] Pembahasan tentang alat epistemology ini akan kita bahas secara detil pada bab tentang alat-alat epistemology.