Archive for the ‘Filsafat’ Category

Oleh : Andi Ryza Fardiansyah

knowledge

Dalam kehidupan manusia, persoalan seputar pengetahuan adalah persoalan yang sangat penting. Bahkan merupakan persoalan yang paling mendasar. Persoalan inilah yang membedakan antara kehidupan manusia dengan kehidupan binatang. Dalam kehidupan binatang, pengetahuan bukanlah persoalan utama. Kita bahkan tidak pernah mendapati binatang yang duduk berdiskusi sesama binatang dalam membahas tema-tema pengetahuan. Jangankan pengetahuan, dalam sejarah dunia inipun tidak pernah ada catatan prestasi yang muncul dari kehidupan binatang, sebagaimana prestasi-prestasi dalam sejarah kehidupan manusia.

Kalau kita meluangkan waktu untuk sejenak merenungi perbedaan antara manusia dengan binatang, bahwa ternyata prinsip-prinsip umum biologis antara binatang dan manusia pada dasarnya sama. Bahwa, aktivitas biologis yang berlaku pada tubuh binatang juga dilakukan oleh manusia dan kebutuhan biologis manusia secara umum sama dengan kebutuhan biologis binatang[1]. Dalam pandangan sains pun (khususnya dalam bidang biologi) antara manusia dan binatang dimasukkan dalam satu kingdom. Dan ini pun yang dijadikan alasan untuk mengambil hewan-hewan percobaan sebagai sampel sebuah penelitian yang pada dasarnya hasilnya ditujukan untuk kehidupan manusia.

Maka tidak ada perbedaan antara kehidupan manusia dan binatang selain pada persoalan pengetahuannya. Dan bahkan persooalan pengetahuan merupakan pembeda satu-satunya yang membedakan antara kehidupan manusia dan binatang. Artinya, tidak ada kemanusiaan tanpa adanya pengetahuan.

Manusia-manusia yang merasa sebagai manusia tapi tidak ingin menjadikan pengetahuan sebagai persoalan yang mendasar pada kehidupannya tidak lebih dari seonggok daging, beberapa liter darah dan beberapa kilogram tulang-belulang saja. Mereka seperti kapal yang terombang-ambing ditengah samudera tanpa kompas, peta dan nahkoda. Mereka seperti mahluk yang berada dalam sebuah labirin abadi dan merekalah pemeran dari cerita yang awal dan akhirnya tidak mereka ketahui.

Itulah alasan mengapa kita sangat mudah mengenali orang-orang yang tidak mempersoalkan pengetahuan. Orang-orang seperti ini banyak tersebar disekitar kita dan mereka adalah orang-orang yang sangat pantas untuk dikasihani. Orang-orang yang tidak berpengetahuan juga pastinya tidak akan mengetahui apa akibat dari sebuah tindakan. Karena setiap tindakan manusia mestilah didasari atas dasar pengetahuan. Minimal tentang alasan dan konsekuensi yang lahir. Kalau tidak, tentulah tidak aka nada pula pertanggung jawaban dari sebuah tindakan. Dan tindakan tanpa pertanggung jawaban hanyalah tindakan yang dilakukan oleh binatang.

Kita tidak pernah menemukan ada sapi yang makan rumput yang sebelumnya meminta izin pada pemilik rumput. Kita tidak pernah menemukan ada kambing yang makan tanaman didepan rumah kita setelah meminta izin pada kita sang pemilik rumah. Dan kita tidak pernah menemukan ada hewan yang dituduh mencuri, memperkosa atau melakukan sebuah tindakan kriminal. Karena tidak ada pertanggungjawaban pada binatang. Maka orang-orang yang tidak mempersoalkan pengetahuan sama dengan tidak pernah pusing tentang pembedanya dengan binatang.

 

Dalam pandangan kaum empirisme[2] manusia dimasukkan dalam kingdom binatang. Ini memang dibenarkan sebab dari segi jasad antara binatang dan manusia sama-sama tunduk pada satu hukum-hukum biologis yang sama. Manusia secara jasadi butuh makan, binatang pun butuh makan. Manusia secara jasadi bernafas, instirahat, mengeluarkan zat sisa dan binatang pun seperti itu. Dan apapun kebutuhan fisik yang diperlukan oleh manusia juga dilakukan oleh binatang.

Namun, kehidupan binatang adalah kehidupan yang tidak pernah mengalami perkembangan. Berbeda dengan kehidupan manusia yang semakin berkembang dan beradab. Dalam kehidupannya, manusia mengenal apa yang disebut cinta, tanggung jawab, etika, moralitas, keadilan dan kebenaran. Yang dalam pandangan manusia, ketika hal ini tidak ada maka kehidupan akan tidak berarti apa-apa. Berbeda dengan kehidupan binatang yang walaupun mereka tidak mengenal hal-hal tersebut mereka masih tetap hidup seperti biasanya. Ini karena apa? Tentu saja ada perbedaan pengetahuan antara manusia dan binatang. Pengetahuan yang membuat manusia memaknai hidup dengan cara yang berbeda dari binatang.

Dari sini, kita dapat menyipulkan bahwa makna dari kehidupan pada dasarnya sangat bergantung dari bagaimana pengetahuan kita tentang hidup. Ada orang-orang yang kemudian hidup hanya untuk mengisi perutnya dan ada juga orang-orang yang hidup untuk membantu orang lain. Orang-orang yang hidup hanya untuk mengisi perutnya mungkin memiliki pengetahuan bahwa hidup ini bukanlah sesuatu yang harus dipersembahkan. Mereka tidak memahami adanya tujuan dari hidup selain untuk diri mereka sendiri. Sedangkan mereka yang hidup untuk membahagiakan orang lain mungkin saja melihat hidup dengan cara yang berbeda. Mereka mungkin memahami bahwa hidup punya tujuan dan hidup adalah salah satu dari serangkaian tahapan dalam penciptaan. Namun, apapun bentuk kehidupan itu pastilah sangat bergantung dari bagaimana pengetahuan subjek tentang kehidupan.

Artinya, kehidupan sebagai sebuah hal yang paling mendasar dari mahluk hidup adalah hal yang sangat bergantung dari bagaimana pengetahuan pelaku kehidupan. Pengetahuanlah yang kemudian menunjukkan jalan serta tujuan kemana kehidupan itu akan diarahkan. Pengetahuanlah yang kemudian menjadi dasar setiap orang ingin membuat design tersendiri pada akhir kehidupannya. Orang yang menganggap bahwa mati dalam keadaan tidur dirumah sebagai sesuatu yang baik tentu saja mengaharapkan kematian yang seperti itu. Namun berbeda dengan orang yang paham bahwa mati di medan perang dalam memperjuangkan agama adalah sebuah kematian yang mulia tentu saja akan memilih kematian yang seperti ini.

Binatang pun berdasarkan pengetahuannya juga menentukan cara matinya. Binatang mati dengan model kematian yang biasa-biasa saja. Kematian binatang tidak pernah membawa pengaruh pada kehidupan binatang yang lainnya. Kematian binatang tidak pernah membawa manfaat. Jika seekor ayam mati, kematiannya bukanlah sebuah pelajaran berharga bagi ayam yang lainnya. Maka ketika ada manusia yang kematiannya juga biasa-biasa saja dan tidak membawa manfaat kepada manusia yang lainnya maka kematiannya adalah kematian seperti matinya binatang. Dan tentu saja kita bisa menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan semasa hidupnya pula tidak lebih dari apa yang juga dilakukan oleh binatang semasa hidupnya. Dan pandangannya tentang hidup pun sama dengan bagaimana binatang memaknai hidupnya.

Akan tetapi jika kita bertanya kepada manusia secara sadar tentu saja tidak satupun yang ingin dikatakan seperti binatang. Namun sayangnya karena keterbatasan pengetahuan mereka sehingga mereka menjalani kehidupan seperti binatang secara tidak sadar.

 

Cara terbaik untuk mengetahui perbedaan antara pengetahuan manusia dengan binatang adalah dengan memperhatikan orientasi dari setiap tingkah lakunya. Ini dikarenakan pada dasarnya tidak ada tingkah laku yang dilakukan tanpa dasar pengetahuan. Mengapa ketika orang melihat rumahnya terbakar dan semua hartanya hangus dia akan menangis, karena dia tahu bahwa rumahnya yang terbakar dan menghanguskan semua hartanya merupakan sebuah kerugian besar dalam hidupnya. Mereka tahu bahwa hari-hari kedepannya dalam hidupnya akan terasa lebih sulit dijalani dibandingkan jika rumahnya tidak terbakar dan semua hartanya tidak hangus. Maka jawaban dari pertanyaan mengapa ada model tingkah laku yang berbeda dalam menyikapi realitas adalah bahwa ada pengetahuan yang berbeda dalam memandang realitas.

Realitas yang dipandang oleh binatang adalah realitas hanya sebatas hal-hal fisik. Karena alat pengetahuan yang ada pada binatang hanyalah alat inderawi saja. Binatang tidak punya alat pengetahuan selain dari alat indera. Maka pengetahuannya pun terbatas hanya pada apa yang dipersepsi oleh alat inderanya saja. Binatang tidak mampu memahami realitas yang berada dibalik materi. Binatang tidak memiliki kemampuan untuk memahami hakikat, sehingga binatang tidak akan mampu membuat tidakan untuk mempengaruhi realitas.

Sedangkan manusia tidak hanya mampu untuk mengetahui realitas sebatas persepsi inderawi saja. Manusia lebih daripada itu, karena manusia memiliki alat pengetahuan yang lain selain daripada indera. Manusia punya hayal yang menangkap objek-objek hayal dan akal untuk memahami objek-objek akliah[3]. Artinya, manusia dengan alat epistemologinya yang lebih daripada binatang mampu memiliki pengetahuan yang lebih dari pada binatang. Manusia bisa mengetahui hakaket dari setiap realitas, karena itu pula manusia mampu bertingkah laku untuk mempengaruhi realitas.

Karena pengetahuan binatang yang hanya terbatas pada persepsi inderawi saja, maka tingkah laku binatang pun hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan fisiknya saja. Karena binatang tidak memiliki pengetahuan yang lebih dari persepsi inderawi termasuk pada dirinya sendiri. Binatang hanya paham pada kebutuhan fisik pada dirinya. Dalam satu hari kehidupannya, orientasi tingkah lakunya hanya difokuskan pada bagaimana melakukan pemenuhan kebutuhan fisik. Seperti makan, minum, istirahat dan berkembang biak. Sedangkan pada manusia, karena dianugerahi alat pengetahuan yang lebih sehingga pengetahuannyapun lebih daripada binatang, pola hidupnyapun tidak hanya didasari pada pemenuhan kebutuhan fisik saja. Manusia memiliki pengetahuan bahwa ada kebutuhan non-material yang juga harus terpenuhi pada kehidupannya. Karena manusia memiliki alat pengetahuan untuk mempersepsi realitas non-material. Manusia pasti akan menganggap hidupnya hampa tanpa cinta, keadilan, keamanan dan lain-lain.

Binatang pun tidak memahami adanya hak dan kewajiban. Karena hak dan kewajiban adalah sesuatu yang tidak dapat diinderai. Maka untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, binatang tidak pernah mempersoalkan hak binatang lain. Tidak ada hak milik dalam kehidupan binatang. Maka hukum dalam kehidupan binatang pun adalah “siapa yang kuat dialah yang menang”. Tidak ada rasa kasihan, tidak ada persaudaraan. Yang ada hanyalah bagaimana hari ini seekor binatang bisa makan dan melanjutkan hidupnya.

Hak, kewajiban, persaudaraan, toleransi, kebersamaan dan lain-lain adalah hal-hal yang hanya bisa dipahami oleh manusia. Maka dari itu, jika ada manusia yang kemudian menghilangkan hal tersebut dari kehidupan manusia maka manusia ini adalah manusia yang berharap kehidupan manusia sama dengan binatang. Dan ini hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang empirisme. Orang-orang yang menganggap bahwa pengetahuan manusia hanya terbatas pada persepsi inderawi saja. Sama seperti binatang.


[1] Persamaan secara umum yang dimaksudkan disini adalah  persamaan yang bergantung dari kompleksitas unsur jasadi mahluk. Akan tetapi pada dasarnya walaupun itu adalah hewan ber-sel satu (amoeba) pada dasarnya juga memiliki kesamaan dengan manusia yang merupakan mahluk multi-sel. Salah satunya adalah keduanya butuh nutrisi untuk beraktivitas. Perbedaannya hanyalah apa nutrisi yang dibutuhkan dan bagaimana cara mendapatkannya. Dan semakin kompleks hewan tersebut maka semakin banyak kesamaan secara fisiknya dengan manusia.

[2] Pandangan ini adalah pandangan sebagaimana yang terdapat pada pelajaran biologi pada umumnya.

[3] Pembahasan tentang alat epistemology ini akan kita bahas secara detil pada bab tentang alat-alat epistemology.

Advertisements

Ilmu Logika ( Mantiq )

Posted: January 16, 2011 in Filsafat
Tags: , , ,

Oleh : Haidar Yusuf

Suatu hari seorang pelajar agama (baca talabeh) melewati sebuah desa ( kata sebagian orang kalo sudah menjadi talabeh artinya dia sudah belajar segala macam ilmu dan di antara ilmu yang ia pelajari adalah ilmu logika yaitu ilmu mengasah otak, gunanya tentu untuk memudahkan cara berfikir).

Ketika itu ia melihat seorang petani sedang mengikat sapinya pada sebuah tiang kayu, yang merupakan tonggak penyambung untuk sebuah gilingan terbuat dari batu, dimana ketika diputar maka biji-bijian yang di taro di antara batu-batu itu akan menjadi tepung. Si talabeh kemudian melihat sesuatu yang melingkar pada leher sapi seperti gantungan bel sebagai kalung kalo kita biasa menyebutnya gandulan. Setelah mengucapkan salam Kemudian si talabeh ini bertanya kepada si petani; Wahai pak petani apa yang kamu taruh di leher  sapi ini? Ia menjawab: Itu gandulan. Lalu si talabeh bertanya kembali: Untuk apa kau taruh gandulan itu di lehernya? Supaya dengan suara gandulan tersebut saya akan tahu jika ia berhenti berputar, maka saya akan memecutnya supaya ia  bergerak dan berputar kembali, jawab si petani. Si talabeh mulai berfikir, kemudian mengutarakan maksudnya: Pak petani bagaimana jika ia hanya mengeleng-gelengkan kepalanya supaya suaranya terdengar?Si petani: Maaf nak sapi saya tidak belajar ilmu logika yang kemudian dia akan melakukan apa yang kamu katakan tadi.

Source : http://iwans.wordpress.com/2007/05/31/ilmu-logika-mantiq/

EPISTEMOLOGI (Bagian 1)

Posted: January 5, 2011 in Filsafat

(Andi Ryza Fardiansyah)

SEBUAH PENGANTAR

Apapun ideology di dunia ini merupakan sebuah konstruksi dari bagaimana cara setiap orang memandang dunia ini. Dunia sebagai sebuah objek pandang merupakan sesuatu yang unik (karena sampai saat ini masih banyak pemikir yang skeptis terhadap eksistensi realitas eksternal) yang dapat melahirkan berbagai macam cara pandang terhadapnya. Dan ini merupakan wilayah pembahasan ontology dalam kajian filsafat. Setidaknya pembahasan tentang ontology pada beberapa pihak disebut sebagai pembahasan yang paling utama dan awal dalam kajian tentang eksistensi realitas.

Ideology sebagai sebuah pengetahuan yang termanifestasikan dalam tindakan pada dasarnya hasil dari cara pandang kita tentang realitas. Setiap proposisi ideology pada dasarnya diturunkan dari proposisi universal yang telah terpahami sebelumnya. Atau sederhananya, ideology pada dasarnya adalah kesimpulan tindakan dari proposisi universal dalam pahaman tentang objek-objek pengetahuan yang telah ada sebelumnya. Dan setiap ideology pastilah meniscayakan keberadaan hal ini. Sebagai contoh, Agama menyatakan bahwa setiap manusia haruslah beribadah dan melakukan penyembahan kepada Tuhan. Proposisi ini pada dasarnya merupakan sebuah kesimpulan logis dari proposisi-proposisi universal bahwa Tuhan adalah Pencipta dan Manusia adalah Ciptaan. Begitupun dengan kaum atheis yang tidak melakukan bentuk penyembahan apapun kepada tuhan. Karena mereka tidak meyakini adanya proposisi universal bahwa Tuhan adalah Pencipta dan manusia adalah makhluk (ciptaan). Atau dalam kasus kenapa seorang pejabat pemerintah bertindak sewenang-wenang kepada rakyatnya adalah karena mereka menganggap bahwa kekuasaan akan memposisikan mereka sederajat dengan tuhan (entah pejabat itu beragama atau atheis) dan begitupun sebaliknya.

Namun ada hal yang perlu kita perhatikan dalam setiap kajian tentang realitas. Bahwa pada dasarnya, dalam bentuk apapun, setiap argumentasi kita tentang realitas merupakan hasil dari cara berfikir kita. Artinya bahwa, setiap argumentasi dan proposisi yang kita ucapkan tentang sesuatu adalah sesuatu yang bergantung secara mutlak dari bagaimana cara berfikir kita. Tidak satupun manusia didunia ini yang proposisi dan argumentasi yang dibahasakannya bukan dari cara dia berfikir. Maka dari itu, sebenarnya pengkajian paling mendasar tentang tema-tema atau ideology apapun didunia ini mestilah dimulai dari pengkajian tentang cara berfikir (epistemologi). Dari manakah pengetahuan itu berasal, bagaimana pengetahuan bisa hadir dalam pahaman manusia dan menjadi sebuah persepsi dan apa tolak ukur untuk menentukan keabsahan pengetahuan merupakan pertanyaan paling utama dalam kajian seputar epistemologi.

Setiap pengetahuan pada dasarnya perlu untuk dilakukan sebuah kajian tentang keabsahannya. Keabsahan yang dimaksudkan disini adalah bahwa apakah tolak ukur yang dijadikan sebagai sandaran sebuah pengetahuan. Karena proposisi universal yang darinya sebuah ideology diturunkan pada dasarnya juga adalah pengetahuan. Andaikata semua pengetahuan tidak perlu tolak ukur, maka pertentangan-pertentangan tingkah laku manusia merupakan sebuah keniscayaan. Tidak perlu ada benar dan salah, tidak perlu ada baik dan buruk, dan tidak perlu ada adil dan tidak adil. Maka tidak perlu ada penyebutan “pencuri” bagi orang yang mengambil barang yang bukan haknya tanpa sepengetahuan pemilik, tidak perlu ada kata “penjahat” bagi mereka yang membunuh orang lain yag tidak memiliki salah apapun. Dan andaikata dunia seperti ini, maka yang berlaku adalah animalisme. Manusia akan hidup seperti binatang, saling memangsa dan saling mendominasi. Yang kuat akan mendapatkan segalanya dan yang lemah harus mengucapkan selamat tinggal bagi kehidupan yang sejahtera.

Namun sejarah perjalanan kehidupan manusia telah menghadirkan sebuah fakta menarik. Bahwa terjadi berbagai penentangan terhadap pola kehidupan seperti ini. Sejarah peradaban manusia membuktikan bahwa manusia adalah mahluk yang senantiasa merindukan persamaan hak, kesetaraan, penghargaan dan mengecam segala bentuk penjajahan dan dominasi. Sebut saja lahirnya Universal Declaration of Human Rights, kemerdekaan Negara-negara di dunia dan perang untuk mempertahankan wilayahnya dari para penjajah yang dilakukan oleh manusia sepajang sejarah merupakan sebuah bukti nyata bahwa manusia adalah mahluk yang melakukan penentangan terhadap semua bentuk penindasan. Maka disini secara sederhana kita bisa menyimpulkan bahwa semua bentuk pemikiran yang berujung pada penghalalan dominasi dan penindasan serta menghilangkan persamaan hak bagi seluruh manusia didunia adalah pemikiran yang tidak sesuai dengan keinginan seluruh manusia disepanjang sejarahnya. Dan sejarah pun mencatat bahwa bentuk pemikiran yang seperti ini adalah bentuk pemikiran yang menyebabkan terjadinya perang antar umat manusia.

Maka dari itu, sangatlah penting untuk menetapkan sebuah tolak ukur bagi pengetahuan agar kesatuan nilai tindakan dapat terwujudkan. Bahwa kemudian dapat dibedakan antara mana tindakan yang sesuai dengan kemanusiaan dan mana yang membunuh kemanusiaan. Karena tidak ada satupun tindakan didunia ini yang tidak lahir dari cara berfikir. Keniscayaan ini pula yang menjadikan epistemologi sebagai kajian paling awal tentang apapun, termasuk kepada manusia itu sendiri dalam posisinya sebagai subjek maupun sebagai objek pengetahuan.

Dalam pembahasan tentang epistemologi ini kita akan membahas manusia sebagai subjek pengetahuan. Artinya adapun pembicaraan tentang manusia disini haruslah dipanndang sebagai pihak yang mempersepsi realitas dan pihak yang melakukan tindakan. Pengatahuan yang dibahas disini akan diarahkan pada pengetahuan manusia, walaupun dalam pembahasannya nanti akan juga dibahas bagaimana pengetahuan yang ada pada mahluk-mahluk lainnya. Namun itu hanya sekedar perbandingan untuk melihat dimana posisi sebenarnya dari pengetahuan manusia. Posisi yang saya maksudkan disini adalah derajat manusia dibandingakan dengan seluruh mahluk yang ada di alam semesta ini.

Namun, hambatan terbesar dari tulisan ini adalah pada anggapan ilmiah sebuah hasil karya intelektual. Ini pun pada dasarnya lahir dari perbedaan cara pandang antara saya sebagai penulis dengan orang-orang yang kemungkinan akan menganggap tulisan ini tidak ilmiah (biasanya dilakukan oleh mereka yang memperoleh gelar akademik, namun tidak semua). Saya paham dan sangat mengerti kenapa mereka akan mengatakan hal itu. Itu karena tulisan ini tidak mencantumkan referensi berupa kutipan dari seorang pakar dan daftar pustaka dari buku-buku ternama.   Mereka menganggap bahwa sebuah tulisan atau pembahasan akan dianggap ilmiah jika didasarkan pada kutipan pikiran seorang pakar atau daftar pustakan dari buku-buku terkenal.

Ada alasan saya tidak melakukan hal tersebut. Pertama, bahwa ini adalah pembahasan tentang epistemology, pembahasan paling mendasar tentang pengetahuan. Bagaimana mungkin saya mendasarkan proposisi saya pada standarisasi ilmiah sebagaimana yang mereka (kebanyakan para akademisi) maksudkan sedangkan dipembahasan ini kita baru akan membahas keabsahan sebuah standarisasi pemikiran. Untuk membahas keabsahan standarisasi pemikiran tentulah kita harus melepaskan terlebih dahulu semua tolak ukur pengetahuan sampai kita menemukan keniscayaan tolak ukur yang tidak terbantahkan. Jika saya dipaksa untuk mengikuti standarisasi ilmiah yang sudah ditetapkan maka sama saya harus berpihak dulu pada standarisasi ilmiah tersebut. Dan ini mustahil, karena dalam pembahasan ini semua standarisasi akan kita kaji termasuk mengapa pengetahuan hanya dianggap ilmiah ketika disandarkan pada pengetahuan orang yang dianggap ahli atau mencantumkan daftar pustaka dari buku-buku tertentu. Kedua, dalam pembahasan ini semua kita akan pertanyakan. Termasuk apa tolak ukur seseorang dikatakan ahli? Apakah karena ia mendapatkan gelar tertentu dari sebuah universitas ternama di sebuah Negara, atukah dia memiliki jumlah karya ilmiah tertentu atukah keniscayaan pengetahuannya yang tidak terbantahkan?

Mengatakan tulisan ini tidak ilmiah pada dasarnya adalah sebuah bentuk pemaksaan kepada sebuah aliran epistemology tertentu tanpa melakukan verifikasi terhadapnya. Dan ini justru bukanlah sebuah cara-cara yang ditolerir. Bukankah bukti sejarah mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang mengobarkan peperangan terhadap segala bentuk pemaksaan? Dalam pembahasan ini diharapkan kepada para pembaca untuk melepaskan terlebih dahulu semua bentuk keberpihakannya kepada aliran pemikiran apapun. Karena tujuan dari semua ini semata-mata hanya untuk menyadarkan kita semua. Hanya supaya kita semua menjadi mahluk yang bertindak dengan kesadarannya, bukan dengan paksaan ataukah atas dasar ketidaksadaran. Karena sesungguhnya banyak aliran pemikiran yang bersembunyi dibalik ketidak sadaran manusia. Banyak ideology yang melakukan manipulasi kesadaran terhadap manusia. Atas dasar persamaan hak mereka melegalkan penindasan kepada manusia-manusia yang dianggap berbahaya bagi keberlangsungan kekuasaannya. Maka dari itu, semua bentuk pengkajian terhadap pengetahuan yang bertujuan untuk membangkitkan kesadaran manusia dalam memandang realitasnya pada dasarnya adalah bentuk pembebesan terhadap manusia. Sebuah peperangan yang paling nyata terhadap penindasan dan diskriminasi. Dan tujuan ditulisnya pembahasan ini juga seperti itu. Ini adalah perang dan deklarasi penentangan terhadap semua bentuk penindasan mulai dari cara berfikirnya sampai wujud tingkah lakunnya.